Aliran yang sempurna untuk hidup, tidak tergantung kepada bentuk organisasi, terbentuk atas dasar nurani untuk mendekatkan diri pada Sang Khalik,, Tidak hanya memandang namaNya, tapi lebih dari itu, yaitu dzatNya...
Siapakah Dia?? hehehe,,, jawablah dengan hatimu sendiri, jawablah dengan hembusan nafasmu,,
BEGAWAN UPAS WERKUDORO
http://apocalypser.multiply.com/
Jumat, 02 Maret 2012
Selasa, 28 Februari 2012
renungan malam
"Bisma tersenyum melihat Dewi Amba pada diri Srikandi saat anak panah melesat menghujam dadanya" ..
With blood splash out and melting all over my body. My chest is breathing heavily unable to spell any word
On the Baratayuda’s front, On the front of your great war today
Maharesi Bisma, A great soul on a piece of mirror, every moment look at yourself … Killed in a battle
Ohhh.....Maharesi Bisma tersenyum melihat Dewi Amba pada diri Srikandi
Yang terakhir pesan kakanda, kekasih....Pesan yang patah patah tak bisa tuntut
Dengan Darah yang muncrat dan leleh di sekujur badan, Dadaku tersengal sengal tak bisa lagi berkata-kata
Setelah Arjuna menyiapkan anjang-anjang anak panah untuk menyandarkan kepala Reshi Bhisma, dan Bima menata perisai-perisai milik prajurit yang gugur untuk pembaringan, Resi Bhisma meminta pada Dewa untuk memberikan umur sampai akhir Perang Baratayudha agar melihat akhir perang. Dengan tubuh lemah terbaring di atas anjang-anjang anak panah di sisi medan perang Kurusetra, Bhisma menyaksikan satu per satu panglima perang Pandawa dan Kurawa gugur. Ketika Duryudhana sebagai senapati terakhir Kurawa juga tewas di medan perang, Bhisma melihat bayangan Dewi Amba melayang di atasnya, sejenak Bhisma dan Amba saling bertatapan kemudian memejamkan matanya pelahan.
Dewi Amba….. dengan senyum yang penuh cinta, membayang di wajah Srikandi yang berkalungkan untaian bunga Padma pemberian Syiwa. Perlahan-lahan Bhisma mendengar desah nafas Dewi Amba yang teratur menjadi syair lagu yang mendayu penuh kasih sayang. Perpisahan telah mengajarkan pada Reshi Bhisma tentang rasa sakit yang amat dlam hingga merindukan rasa sakit, saat teringat dirinya menarik anak panah dari busurnya dan melesat menembus dada Dewi Amba.
Dengan suaranya yang lembut, Dewi Amba bernyanyi…. “usai sudah usiamu telah usai kekasihku, telah usai senang, telah tuntas perang, usai semesta rasa, Semesta duka lara. Aku melihat dirimu berkaca di mataku dengan tubuhmu yang berkilatan lumuran duka dan darah” My love, here is my closing message the broken message, I hold you, you will be on my lap
Medengar suara Dewi Amba, mata Sang Reshi Bhisma berkaca-kaca, dan Dewi Amba menatap wajah Bhisma, dan melihat dirinya berkaca di mata sang Reshi yang berkaca-kaca. Bhisma menjulurkan kedua tanganya seakan hendak memeluk Dewi Amba sembari tersenyum dan meneteskan air mata. “Ohh…. Amba, padamu aku mangandung dosa, undanglah daku dalam satu meja makan yang trerhidang segala makanan dan kasih sayangmu”
Dewi Amba tersenyum…dan segera menyambut tangan Bhisma, “usai sudah kekasihku, telah usai usiamu telah usai”
Kupejamkan mata ini Amba sayangku, dan terbukalah tirai ibunda Gangga, mengajakku untuk masuk, untuk menyelami dan meraba. Saat itu aku hanya bisa tertawa, menangis, merasa dan bahagia bersama senandung ibu yang kini terpancar diwajahmu.
Pagi ini sebersit kabut kelam melintas, namun mengharukan. Wanginya seperti telah kukenal puluhan tahun lamanya, terasa merobek hati dan aku telah melihat wujudmu kembali Amba, maafkan aku kekasih. Bhisma mengucapkan kata-kata dengan suara terputus-putus, wajahnya cerah dan matanya yang berkaca-kaca saat Dewi Amba memegang telapak tangannya dengan kasih sayang dan pengampunan.
dalam hidup terdapatlah sebuah kenangan,,,,
dalam kenangan terdapatlah cerita,,,,
dalam cerita terdapatlah kekalahan,,,,
dalam kekalahan terdapatlah kesadaran,,,
dalam kesadaran terdapatlah kepedihan,,,
dalam kepedihan terdapatlah kenyamanan hati,,,
dalam kenyamanan terdapatlah harapan,,,
dalam harapan terdapatlah kekhawatiran,,,
dalam kekhawatiran terdapatlah kepastian,,,
dalam kepastian terdapatlah keputusan,,,
dalam keputusan terdapatlah keindahan,,,
dalam keindahan terdapatlah kelenaan,,,
dalam kelenaan terdapatlah qolbun yang sejati,,,
dalamnya adalah kemenangan sejati,,,,,,,
dalam kemenangan sejati adalah,,,,,,,,
,,,,,,
,,,,,,,,,
,,,,,,,,,,,
,,,,,,,,,,,,, baiti jannati,,, ( rumahku surgaku ),,,,,
Begawan Upas Werkudoro
Minggu, 19 Februari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)






